Menjelang Lebaran

Nggak terasa bulan Ramadhan telah berjalan duapuluhan hari. Beberapa hari lagi Ramadhan akan berakhir dan masuk ke bulan berikutnya: bulan Syawal, yang hari pertamanya dikenal dengan istilah Lebaran.

Menyongsong lebaran ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, kesibukan mulai terlihat di mana-mana. Orang-orang mulai membersihkan dan merapikan rumah, bahkan banyak yang mempercantiknya dengan cat baru atau malah menambahkan dekorasi-dekorasi tertentu. Pasar-pasar, swalayan, pusat-pusat perbelanjaan mulai dipadati orang-orang yang berbelanja pakaian baru atau kebutuhan-kebutuhan untuk hari lebaran. Makanan-makanan khas lebaran pun mulai banyak diserbu. Sebagian orang malah membuat sendiri panganan-panganan yang sengaja disiapkan untuk disajikan pada hari lebaran. Pokoknya semua dipersiapkan dengan meriah, seperti persiapan untuk mengadakan pesta besar. Pesta besar. Ya,…pesta besar.

Lebaran, memang adalah sebuah pesta besar. Sebuah pesta yang diperuntukkan untuk menyambut mereka-mereka yang telah sukses “menaklukkan” tantangan-tantangan besar selama Ramadhan. Bahkan dikatakan itulah perang terbesar dari segala perang: mengalahkan hawa nafsu.

Sebuah pesta yang bahkan dirayakan oleh mereka-mereka yang sebenarnya tidak sama sekali menjalankan apa yang diwajibkan ataupun disunahkan selama Ramadhan. Tidak peduli. Pokoknya ini pesta besar bagi semua. Semua kudu ikut meramaikan. Malahan, dibandingkan persiapan menyambut Ramadhan, pesta menyambut Lebaran jauh lebih dipersiapkan. Kalau boleh jujur, ketika bulan Ramadhan tiba, yang diharapkan segera datang oleh kebanyakan orang adalah Lebaran.

Pernahkah kita bertanya dan menjawab dengan sejujur-jujurnya:

pesta yang kita siapkan menyambut Lebaran itu adalah sebagai tanda sukacita karena : (a). kita berhasil melewati bulan Ramadhan dengan baik (puasa, taraweh, dsb) dan menaklukkan hawa nafsu kita; ataukah (b). bulan Ramadhan telah berlalu dan kita tidak lagi harus berlapar-lapar, berhaus-haus dan berlemas-lemas di siang hari?

Ayo jawab! Yang mana? Ya, sudahlah! Yang penting, kita kudu introspeksi diri masing-masing. Agar kita dapat menemukan makna dari Lebaran yang sesungguhnya.

Selamat Hari Lebaran! Selamat Iedul Fitri! Minal Aidin Wal Faizin!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s