Mengapa Ada Orang Yang Tidak Seiman?

Siapa Tuhanmu? Apa Agamamu? Siapa Rasulmu? … dst Adalah pertanyaan-pertanyaan yang konon kelak akan ditanyakan kepada kita di alam akhirat. Itulah password yang dapat memberikan akses bagi jiwa seseorang untuk bisa memasuki proses-proses verifikasi selanjutnya agar bisa menjadi calon penghuni syurga-syurga. Hanya jawaban-jawaban yang sesuai dengan kebenaran hakiki saja yang bisa diterima dan dinyatakan lolos ke proses selanjutnya. Selain daripada itu, tidak akan diikutsertakan dalam penjaringan calon-calon penghuni syurga, alias harus tinggal di bagian akhirat yang lain, yaitu NERAKA.

Orang-orang yang lolos proses verifikasi adalah orang-orang yang memiliki keimanan yang benar diantara orang-orang yang beriman saja. Meskipun sebagian besar manusia di bumi ini memiliki keimanan kepada Tuhan, tetapi tidak semua keimanan mereka itu benar dan bisa diterima. Sebab ada syarat-syarat keabsahan keimanan yang seluruhnya harus dipenuhi, yang tanpa itu maka tak ada verifikasi lanjutan.

Lalu timbul pertanyaan dalam hati, “Mengapa ada orang yang tidak beriman atau tidak memiliki keimanan yang benar?” Dan jika keimanan kita adalah keimanan yang benar, mengapa ada orang yang tidak seiman dengan kita?

Pernah aku baca firman Tuhan yang bunyinya lebih kurang “…jika Dia menghendaki, dijadikannya semua manusia itu beriman kepadaNya..”. Mengapa tidak terjadi? Sebab Dia yang maha berkehendak bisa saja menjadikan seluruh manusia di dunia ini berada dalam satu keimanan. Tapi mengapa nyatanya tidak? Dikatakan bahwa Dia telah memberikan petunjuk-petunjuk mana jalan yang benar dan mana jalan yang salah untuk kita pilih. Tetapi bagaimana kita bisa tahu keimanan yang mana yang hakiki dan mana yang bukan?

Ada orang yang kemudian berpindah atau masuk ke dalam keimanan kita (yang kita yakin adalah keimanan yang hakiki) karena mendapatkan petunjukNya. Tetapi banyak yang justeru tetap bersikukuh dengan keimanannya yang berbeda dengan kita, apapun yang terjadi. Apakah orang-orang tersebut tidak mendapatkan petunjuk? Jika demikian, bukankah itu berarti bahwa Tuhan memang sengaja memilih siapa-siapa yang mendapatkan petunjukNya?

Keimanan yang kita anut sekarang ini adalah keimanan yang hakiki. Apakah itu juga karena kita mendapatkan petunjukNya? Bukan karena orangtua kita, orang-orang di sekitar kita, serta pendidikan dan arahan-arahan yang kita terima sejak bayi menuntun kita kepada keimanan kita sekarang ini? Pernahkan anda berfikir bahwa jika anda dilahirkan, dibesarkan, dibimbing dan dididik sejak bayi dalam keimanan yang lain anda akan memiliki keimanan seperti sekarang ini? Saya rasa itu jarang sekali terjadi dan, seperti disebutkan tadi hanya atas petunjukNya.

Mengapa saya mengungkapkan hal ini?” Sama sekali tidak ada keraguan akan keimanan yang saya miliki saat ini, dan sangat bersyukur atas anugerah keimanan tersebut. Ini hanyalah bahan renungan, sebab saya seringkali merasa resah akan perdebatan dan pertengkaran bahkan permusuhan yang diakibatkan oleh perbedaan keimanan diantara kita.

Seperti ayat tentang keimanan tadi, ada juga ayat-ayat yang diantaranya bermakna lebih kurang “….bahwa Tuhan menciptakan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal satu sama lain.” Tentulah maksud Tuhan bukan sekedar mengenal, tapi pasti lebih jauh daripada itu. Pasti Tuhan menghendaki kita untuk saling mencintai, yang proses awal untuk saling mencintai adalah saling mengenal. Sebab, seperti kata pepatah, “Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta.”

Inilah maksud saya, bahwa keberagaman diantara kita, termasuk soal keimanan adalah bagian dari kehendak Tuhan. Lalu mengapa kita mempersoalkan dan memperdebatkan kehendak Tuhan tersebut?

Mengapa setiap kali ada perbedaan prinsip hidup, pandangan, kepentingan, ataupun keyakinan dan kita tidak bisa menemukan jalan untuk menyamakannya kita selalu saja bertengkar, bermusuhan satu sama lain? Tak bisakah kita untuk saling berdampingan dalam damai dan saling menghargai tanpa celaan, hinaan, hujatan….? Mengapa kita tak bisa menerima segala perbedaan sebagai suatu rahmat dari Tuhan yang memang telah menciptakan kita dalam keberagaman?

3 thoughts on “Mengapa Ada Orang Yang Tidak Seiman?

  1. Mas.. kalau dipikir2, mungkin ada beberapa orang yang nggak yakin sama apa yang dipegangnya. Ini masalah kekekalan. Banyak orang yang takut apa yang dpegangnya itu salah. Bagaimana supaya dia merasa tenang?
    1. Banyak orang harus sependapat dengan dia.
    2. Meyakinkan diri bahwa orang lain yang berbeda dengan dia itu salah.
    3. Kalau masalah permusuhan dan pertengkaran… itu sih karena banyak orang tidak menjalankan keyakinannya (apapun itu) dengan sebenar2nya. Karena aku yakin, tidak ada kepercayaan yang mengajarkan pencideraan pada mahluk TUHAN yang paling mulia, yaitu manusia.

    Jadi kalau masih bermasalah dengan keberadaan kepercayaan lain di sekitar kita, mari kita tanyakan pada diri sendiri, kenapa kita tidak yakin dengan apa yang kita pegang sekarang ini. Betulkah apa yang kita pegang ini hanya karena diajarkan oleh orang tua (hanya karena keturunan) atau kita bener2 yakin dengan pilihan ini?

    Syiar?
    Kalau memang kita yakin, mengapa harus takut dengan syiar yang dilakukan kepercayaan lain?! Toh namanya juga perbedaan, boleh dong didiskusikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s