Puasa

Dulu, setiap kali menjalankan puasa di bulan Ramadhan, aku selalu menjalaninya dengan terseok-seok. Biasanya pada hari-hari pertama, aku lebih banyak tidur. Kalaupun tidak tidur, aku jarang melakukan aktivitas seperti hari-hari biasa; paling-paling baca-baca buku, atau hal-hal lain menghabiskan waktu tetapi tidak banyak menghabiskan stamina.

Setelah makin dewasa, dan aku mulai bekerja, puasa terasa menjadi semakin berat. Sedangkan tidak melakukan pekerjaan pun aku sudah begitu “menderita” menunggu detik-detik azan maghrib, apalagi kalau sambil bekerja. Akibatnya, seringkali aku menyerah pada diriku sendiri dan akhirnya membatalkan puasa pada saat jam istirahat. Apalagi di lingkungan tempat kerjaku banyak sekali orang-orang yang tidak berpuasa dan bahkan “nyetanin” orang lain untuk juga tidak berpuasa. Ya sudah…..bablaslah! Dalam satu bulan, dapat puasa sepuluh hari saja sudah bagus.

Tapi, beberapa tahun belakangan ini, seiring perjalanan waktu dan pemahaman serta pendalaman akan hakikat dan hikmah-hikmah puasa, alhamdulillah aku selalu dapat menjalani puasa dengan baik. Bahkan dalam keadaan pekerjaan yang menghabiskan banyak energi sekalipun, aku masih bisa bertahan. Walau seringkali “setan-setan” di lingkungan tempat kerja seakan tidak pernah rela membiarkan aku untuk tidak menyerah.

Banyak hikmah yang aku pelajari dan aku dapatkan setelah secara tekun menjalankan puasa. Diantara yang paling aku rasakan adalah dari faktor kesehatan, baik fisik maupun mental. Ada gejala-gejala maag yang dulu seringkali mengganggu hari-hari kerjaku, yang aku khawatirkan akan mengganggu puasa, anehnya justeru malah hilang pada saat dan setelah berpuasa. Rasa sering gelisah, gampang marah dan ketakutan tak menentu yang juga sering aku alami, tidak muncul selama menjalankan puasa. Perasaanku menjadi lebih tenang dan lebih bisa mengendalikan emosi. Pokoknya puasa membawa banyak kebaikan bagiku.

Dari pengalaman-pengalamanku dalam hal berpuasa, aku dapat menyimpulkan beberapa hal, diantaranya adalah :

Puasa itu adalah persoalan niat dan tekad. Artinya, jika kita memang benar-benar niat dan bertekad untuk puasa, maka tidak ada kata “terlalu berat untuk dijalani”. (Kecuali kita memang benar-benar sedang sakit). Aku sering merasa hampir menyerah pada setengah hari saja puasa, tapi begitu aku kuatkan perasaan dan membuang pikiran yang mengarah kepada batal puasa, aku akhirnya dapat melanjutkan hingga maghrib tanpa terjadi apa-apa.

Jangan pernah menyerah. Sekali kita mengatakan pada diri kita, “waduh, aku benar-benar tidak kuat lagi, aku harus berbuka!” dan kita benar-benar berbuka, maka hari-hari berikutnya kita akan melakukan hal yang sama.

Kalau kita merasa sehat, maka berpuasalah. Kita akan merasa lebih sehat sesudahnya. Tapi kita menipu diri sendiri : kita sebenarnya sehat, tetapi mengatakan bahwa “aku sakit, tidak bisa puasa”. Maka diri kita juga akan menipu kita: kita sehat, tapi merasa sakit. Perasaan sakit seringkali disebabkan oleh masalah mental dibanding karena faktor fisik.

5 thoughts on “Puasa

  1. hehe…..(seperti bunyi pesan pada film-film) kalo ada kemiripan tokoh, itu hanya kebetulan belaka. Jadi aku sama sekali nggak menjiplak foto kamu lho! hehe……

  2. Saya salut pada mas kambing laut, soalnya rajin puasa, berarti mas iman kuat ya.. Hari ini saya lg puasa senin-kamis. banyak hikmahnya yang sy alami. sy lebih sabar, sehat, dan langsing tidak gembrot biar suami tdk berpaling sm yg lain. ha. ha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s